Friday, 30 September 2016

Ini Rencana Google di Indonesia

Google pertama kali dikenal melalui layanan mesin pencari (Search) pada 1998. Seiring berjalannya waktu, perusahaan yang bermula dari teras rumah itu menjelma jadi raksasa teknologi dengan banyak kaki bisnis seperti peta digital (Maps), layanan berbagi video (YouTube), hingga sistem operasi mobile (Android).



Tak cukup puas menyasar khalayak umum, belakangan Google juga menghadirkan layanan sistem komputasi berbasis cloud (Google Cloud Platform) yang bersifat business to business alias B2B. Target pasar layanan itu adalah para pengembang aplikasi dan bisnis digital lainnya.

Semua unit bisnis tersebut agaknya berkembang positif di Indonesia. Dalam acara Google for Indonesia yang diselenggarakan pada Selasa (9/8/2016) lalu di Hotel Ritz Carlton, Jakarta, para eksekutif Google memaparkan rencana-rencana ke depan di Tanah Air. Berikut rangkumannya.

Search

Google memiliki tiga fokus utama dalam mengembangkan Search di Indonesia: bisa diandalkan dalam koneksi lambat atau tak stabil, relevan dengan minat penelusuran masyarakat lokal, serta mampu merespons penelusuran suara (voice search) dalam Bahasa Indonesia.

Maps

Fungsi layanan peta digital Maps pun hendak diperkaya. Tak sekadar sebagai penunjuk jalan, tapi juga mampu menunjukkan jadwal angkutan umum dan tarif layanan ride-sharing. Untuk itu, Google telah bekerja sama dengan beberapa pihak seperti PT TransJakarta, Gojek, Grab, dan Uber.

Di sektor pariwisata, Google juga hendak mempromosikan potensi alam Indonesia melalui layanan Street View. Beberapa tempat yang sudah bisa dijajal secara virtual via Street View antara lain Pulau Komodo, Raja Ampat, Bali, Bangka, serta Bunaken.

YouTube

Video blog alias vlog menjadi tren di kalangan generasi muda Tanah Air. Google pun ingin memudahkan para kreator dalam menemukan materi edukasi melalui fitur Creator Hub.

Sementara itu, untuk para penonton, YouTube juga menghadirkan pilihan offline agar tetap bisa menyaksikan video meski koneksi tak stabil.

Sunday, 25 September 2016

Gerakan 1.000 Startup Gelar Sesi "Ignition" di Yogyakarta

Gerakan Nasional 1.000 Startup hari ini, Sabtu (13/8/2016) menyambangi kota Yogyakarta dengan menggelar seminar atau sesi Ignition mengenai perintisan usaha digital.



Sesi Ignition di Yogyakarta terselenggara berkat kerja sama Gerakan 1.000 Startup dengan UGM Innovative Academy dan startup Kerjabilitas yang menjadi partner resmi kegiatan ini di Yogyakarta.

Menurut CEO Kerjabilitas, Rubby Emir, pendaftaran sesi Ignition di Yogyakarta berhasil menjaring 800 orang pendaftar. Tapi dari jumlah itu hanya 200 pendaftar saja yang dipilih untuk mengikuti acara.

Sesi Ignition, lanjutnya, merupakan upaya untuk merangsang ide-ide kreatif dalam pikiran para pesertanya. Harapannya akan lahir ide bagus, baik berupa aplikasi atau karya lain, yang berguna bagi masyarakat.

"Sekarang ada 70 juta smartphone di Indonesia dan kebanyakan cuma pakai aplikasi buatan luar. Nah itulah masalahnya, kita ini berarti pasar. Lewat gerakan 1.000 startup ini, kita ingin jadi pemain dan yang terbesar di Asia Tenggara," ujar Rubby membuka sesi seminar tersebut, di Graha Sabha Pramana, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.

"Salah satu tahapnya, adalah Ignition ini Tahap ini ibarat busi, kami memantik ide. Kami undang mereka yang jatuh bangun di dunia startup untuk berbagi cerita supaya teman teman punya ide mau ngapain atau membuat aplikasi apa besok," imbuhnya.

Ignition sendiri hanya sebagai langkah awal. Setelahnya, dijelaskan Rubby, Gerakan 1000 Startup akan menggelar tahapan lain, yaitu workshop, hackathon, bootcamp, serta inkubasi.

Harapannya dari keseluruhan proses itu, setiap tahun akan lahir 200 startup berkualitas dan jumlahnya mencapai 1.000 startup dalam 5 tahun.

"Dari banyak startup yang nanti dihasilkan, nanti kami juga akan mengadakan showcase di acara terbesar Indonesia. Tapi hanya 17 startup saja, dan diselenggarakan di tanggal 17 agustus 2017," pungkasnya.

Pada sesi ignition Yogyakarta ini, hadir Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara; Chief Kibar, Yansen Kamto; Wakil Rektor Bidang Kerjasama dan Alumni, Paripurna Sugarda; Direktur Utama Dagadu, A. Noor Arief; Vice President of Operation Salestock, M. Ghufrin Mustaqim; Chief Information Officer Nebengers, Andreas Aditya Swasti; Head of Idea Labs Srengenge, Affi Khresna; Founder Fotografer.net, Kristupa Saragih; Co Founder Ngonoo, Afit Husni Rendra; Head of Operations Hipwee, Nendra Rengganis; dan Founder Mojok, Puthut EA.

Topik yang dibicarakan mulai dari soal membangun ekosistem startup, seni menjadi pengusaha, membangun mindset startup, memanfaatkan komunitas hingga soal blogger generasi baru.

Tuesday, 20 September 2016

Klasifikasi Game Bikin Kreator Tak Khawatirkan Sensor

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) telah merilis aturan yang mengklasifikasi game berdasarkan usia pemain. Asosiasi Game Indonesia (AGI) pun angkat bicara.



Ketua Grup Game Developer AGI, Kris Antoni Hadiputra berpendapat peraturan berupa sistem klasifikasi merupakan hal yang positif. Pasalnya, sistem klasifikasi itu bisa diterapkan tanpa harus membelenggu kebebasan berkreasi.

“Ini lebih baik ketimbang game itu disensor. Kalau dulu kan sempat ada wacana untuk menyensor game tertentu. Padahal itu bukan game yang salah, tapi soal bagaimana memberikan game itu pada orang yang tepat,” ujar Kris saat bincang bersama KompasTekno di sela PopCon Asia 2016, di Jakarta, Jumat (12/8/2016).

“Membuat game perlu kebebasan, karena itu sensor tidak akan cocok. Setelah ada klasifikasi, selanjutnya adalah bagaimana mensosialisasikan hal itu,” imbuhnya.

Dia mencontohkan, rata-rata game sudah memberikan peringatan mengenai konten yang dimuatnya. Salah satunya Grand Theft Auto yang memiliki unsur kekerasan dan vulgar, dilabeli dengan peringatan bahwa kedua unsur tersebut hanya cocok untuk gamers usia dewasa.

Masalah yang sering terjadi adalah label peringatan tersebut tidak diperhatikan dan orang tua atau pendamping. Akibatnya game bermuatan kekerasan yang mestinya cuma dimainkan orang dewasa, malah bisa dimainkan dengan mudah oleh anak di bawah usia 17 tahun.

Dengan adanya sistem klasifikasi, Kris berharap distribusi game bisa lebih terkontrol serta sampai ke tangan yang tepat. Persoalan selanjutnya tinggal bagaimana pemerintah melakukan sosialisasi agar masyarakat mengenal serta paham cara memakai klasifikasi yang ada.

Permen nomer 11 tahun 2016

Dalam Peraturan Menteri (Permen) Nomer 11 tahun 2016, klasifikasi atau rating game digolongkan berdasarkan usia pemainnya. Peraturan juga merinci soal konten yang boleh atau tidak boleh diberikan pada masing-masing kategori usia.

Secara detil, kelompok usia yang diatur adalah 3 tahun, 7 tahun, 13 tahun, 18 tahun, dan Semua Usia. Rinciannya, sebagai berikut:

Thursday, 15 September 2016

"Driver"-nya Gondol Ponsel Pelanggan, ini Tanggapan Go-Jek

Pada Jumat (12/8/2016), seorang pelanggan bernama Ida Farida mengeluhkan masalah driver Go-Send, layanan pengiriman barang GoJek, yang raib bersama paket berisi ponsel. Manajemen GoJek pun memberi tanggapan dan berjanji mengganti rugi.



“Kami sedang menyelidiki insiden kehilangan barang yang menimpa salah satu pengguna layanan Go-Send. Kami juga terus berkoordinasi dengan konsumen  yang bersangkutan,” terang keterangan resmi tim manajemen GoJek saat dihubungi KompasTekno, Minggu (14/8/2016).

“GoJek meminta maaf atas ketidaknyamanan yang dialami konsumen. Kami sudah menangani kerugian yang dialami konsumen sesuai kebijakan perusahaan,” imbuhnya.

Selain itu, akun GoJek milik driver yang diduga membawa kabur barang milik pelanggan, kini sdah dibekukan. Namun hingga saat ini keberadaan sang driver belum diketahui.

GoJek sendiri mengaku sudah memiliki tim khusus yang menyelidiki dan menangani keluhan semacam ini. Dan tim tersebut, telah digerakkan untuk melakukan penyelidikan lebih lanjut.

“Bila konsumen memiliki keluhan terkait pelayanan kami, silakan untuk menghubungi tim layanan konsumen di e-mail customerservice@go-jek.com dan Twitter @gojekindonesia,” pesan tim manajemen GoJek.

Barang pun diganti

Ida Farida, yang KompasTekno hubungi secara terpisah, mengatakan bahwa barang yang dibawa kabur driver Go-Send itu belum ditemukan. Namun dia mengakui GoJek telah menghubungi dan menawarkan ganti rugi.


screenshot
Screenshot


“Paketnya tidak ketemu, tapi manajemen GoJek katanya mau memberi ganti rugi seharga ponsel yang hilang,” terang Ida pada KompasTekno.

Sebelumnya, Ida memesan Go-Send untuk mengirimkan barang berupa ponsel. Driver mengambil barang tersebut di kawasan sekitar Lubang Buaya dan diminta untuk mengantar ke penerima yang berlokasi di Cililitan.

Driver yang berinisial E itu telah menerima barang dan memasukkannya ke bagasi motor. Perkiraan perjalanan, menunjukkan bahwa sang driver mestinya sampai ke Cililitan dalam waktu 30 menit.

Namun barang tersebut tak kunjung sampai, bahkan setelah melewati waktu yang diperkirakan. Sedangkan kedua nomor ponsel driver, baik yang terdaftar di GoJek dan nomor lain yang dipakai untuk menghubungi pelanggan, sudah tidak aktif. Driver pun seolah raib begitu saja.

Saturday, 10 September 2016

Menkominfo Ingin Yogyakarta Lahirkan "Startup Unicorn"

Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara menantang para pemuda kreatif untuk ikut serta dalam usaha pengembangan 1.000 startup dan mewujudkan “unicorn” untuk Indonesia.



“Saya yakin banyak yang bisa bikin aplikasi di sini. Yogyakarta itu kota yang kreatif sekali, tapi lebih banyak diam dibandingkan dengan Jakarta atau Bandung,” ujar Rudiantara di hadapan peserta dan undangan sesi Ignition, Gerakan 1.000 Startup di Yogyakarta, Sabtu (13/8/2016).

“Maksud saya, bukan berarti Yogyakarta harus ikutan ramai. Saya berharap, semoga nanti dari sini banyak yang ikut jadi bagian 1.000 startup. Mungkin saja “Unicorn” baru nanti dari Yogya,” imbuhnya.

Pria yang akrab disapa Chief RA itu menerangkan, Unicorn adalah istilah untuk menyebut sebuah startup yang memiliki nilai valuasi minimal 1 miliar dollar AS atau jika dirupiahkan sekitar Rp 13 triliun.

Harapan dari e-commerce

Di Indonesia sendiri, menurut Chief RA, baru ada satu startup yang masuk kategori tersebut, yaitu Go-Jek. Harapannya tahun ini akan ada lagi startup dari bidang apa pun yang bakal menjadi Unicorn.

“Harapannya bisa ada dua Unicorn lagi tahun ini. Entah itu Tokopedia, Kaskus atau yang lain. Mungkin juga dari Yogyakarta. Kan ada juga (startup) e-commerce di sini. Seperti Aino, pernah dengar nama itu tidak?” ujarnya.

“Saya pernah ke sana (Aino), cek sendiri dan melihat mereka membuat aplikasi untuk rekap hasil operasi MRT Jakarta,” imbuhnya.

Aino yang dimaksud oleh Chief RA adalah anak usaha PT Gamatechno Indonesia. Perusahaan yang bermarkas di Yogyakarta itu bergerak di bidang solusi smart city. Aino sendiri selama ini dikenal sebagai perusahaan yang menangani integrasi dan pengembangan sistem pembayaran TransJogja.

Saat ini, pemerintah sedang menyiapkan program untuk mendorong percepatan pertumbuhan e-commerce serta startup di Tanah Air. Ada lebih kurang 9 kemementarian dan lembaga yang terlibat.

Jika pertumbuhan e-commerce dan startup berhasil dipercepat, harapannya, akan berdampak pada peningkatan nilai pasar e-commerce di Indonesia. Pada 2014, ujar Menkominfo, nilai ini mencapai angka 12 miliar dollar AS atau sekitar Rp 157,2 triliun.

“2020 nanti diprediksi akan naik hingga 130 miliar dollar AS (sekitar Rp 1.703 triliun). Saya harap ada sebagian dari nilai itu yang diciptakan oleh Yogyakarta,” pungkasnya.

Monday, 5 September 2016

Mahasiswi Ini Kenalkan Wisata Semarang lewat Game Android

Berbagai cara untuk mempromosikan destinasi wisata dilakukan oleh lapisan masyarakat. Salah satunya adalah mahasiswi asal Semarang satu ini yang menciptakan permainan (game) untuk memperkenalkan potensi wisata Semarang dan sekitarnya.



Lidya Oktorina Kusuma Sakti, mahasiswi Universitas Katolik Soegijapranata Fakultas Ilmu Komputer membuat game bertemakan wisata. Game tersebut diberi nama Dorang, singkatan dari dolanan Semarang atau dalam bahasa Indonesianya mainan Semarang.

“Sengaja saya namain Dorang karena wisata yang mau diperkenalkan itu wisata Semarang sampai kabupaten-kabupatennya,” ujar Lidya kepada KompasTravel saat memamerkan hasil karyanya di acara Jateng Fair 2016, Jumat (12/8/2016).

Aplikasi permainan yang dibuatnya merupakan syarat kelulusan yang harus membuat sebuah produk teknologi salah satunya berupa aplikasi. Lidya mengatakan lama proses perencanaan hingga pembuatannya sekitar empat bulan, ia pun bekerjasama dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Jawa Tengah.

Namun, Lidya mengatakan permainan tersebut masih jauh dari ekspektasinya, dan masih akan dikembangkan dalam jangka panjang.

Berbagai keterbatasan masih ditemukan, seperti peta wisata yang total baru ada 10, tampilan grafis yang rendah, hingga cakupan lokasi yang belum menjangkau seluruh Semarang dan sekitarnya.

“Ke depannya game ini masih mau dikembangkan, kemarin (dibuat) karena untuk salah satu syarat kelulusan, jadi masih seadanya. Ke depan mau ditambahin obyeknya, dan saran-saran dari responden wisatawan yang datang ke Semarang,” ujar Lidya.


KOMPAS.com/Muhammad Irzal Adiakurnia
Salah satu hasil screenshoot pembukaan aplikasi permainan Dorang untuk android.


Gameplay

Sebelum memulai permainan, Anda juga diminta memilih karakter yang terdiri dari Denok dan Kenang sebagai duta wisata Semarang.

Game ber-genre petualangan ini menyusuri berbagai destinasi wisata tersebut juga memperkenalkan kuliner hingga ciri khas berbagai destinasi. Salah satunya menuju kawasan wisata candi Gedong Songo yang berada di Kabupaten Semarang.

Sepanjang jalan, Anda diminta mengumpulkan koin kacang, dimana kacang tersebut dalam dunia nyata biasa dipakai wisatawan untuk memberi makan monyet penghuni wisata tersebut.

Selain mengumpulkan berbagai koin dan menghindari rintangan, dalam perjalanan Anda akan menemukan penjelasan salah satu kuliner khas dari daerah tersebut, di antaranya seperti lumpia, tahu bakso, sate sapi, serabi kucur, dan yang lainnya.

Game Dorang dapat diunduh di toko aplikasi Android, Google Play Store untuk pengguna Android. Anda bisa langsung mengunduhnya dari tautan berikut ini. Game ini belum tersedia di platform iOS.